Sunday, October 07, 2007,10:32 PM
Peluncuran Buku : "168 JAM DALAM SANDERA"

Kita semua tentu masih ingat peristiwa penculikan yang menimpa dua orang jurnalis Metro TV, Meutya Hafid (reporter) dan Budiyanto (juru kamera), oleh Kelompok Mujahidin Irak (Jaish al Mujahideen) pada 15 Februari 2005. Selama 168 jam mereka disandera di sebuah gua di tengah gurun pasir Ramadi. Tak kurang dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono turut mengupayakan pembebasan bagi keduanya.

Meutya Hafid, wanita kelahiran 3 Mei 1978 itu, bergabung dengan Metro TV sejak akhir tahun 2000. Mulanya, sarjana Teknik Industri lulusan University of New South Wales, Australia ini, tak pernah membayangkan akan berkarier sebagai jurnalis. Ia memulainya dari nol sebagai reporter dan pembawa acara e-Lifestyle, gaya hidup era digital di stasiun TV tersebut.

Penugasan Meutya ke Irak adalah untuk meliput secara langsung pelaksanaan pemilu bebas pertama pasca kejatuhan Saddam Hussein. Situasi politik dan keamanan Irak pada masa tersebut sangatlah rawan. Tak ada yang bisa menjamin keselamatan para jurnalis yang bertugas di sana. Apa yang dialami oleh Meutya dan rekannya itu merupakan sebuah risiko pekerjaan.

Bagi Meutya, peristiwa penyanderaan dirinya itu tentu sebuah pengalaman berharga dalam sepanjang hidupnya. Sudah lama ia berniat untuk menuliskannya. Namun, karena kesibukan dan lain-lain, baru terwujud dua tahun setelahnya. Buku yang diberi judul 168 Jam Dalam Sandera itu, akhirnya diluncurkan pada Jumat, 28 September 2007 di Ruang Prambanan Hotel Sahid Jaya, Jakarta.

Pada kesempatan tersebut hadir Rosihan Anwar (wartawan senior), Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina), Don Bosco Selamun (Komisi Penyiaran Indonesia), serta Dian Sastrowardoyo (artis) selaku pembicara. Semua pembicara menyampaikan pujian untuk buku non fiksi ini. Bahkan, secara khusus Rosihan Anwar berujar bahwa buku tersebut wajib dibaca oleh para jurnalis Indonesia.

Acara peluncuran yang dilanjutkan dengan diskusi buku itu tampak dihadiri pula oleh sejumlah tokoh masyarakat, di antaranya Dien Syamsudin (Ketua Umum PP Muhammadiyah) dan Haidar Bagir (Mizan Group).

Dalam ucapan terima kasihnya, Meutya antara lain mengutarakan, bahwa peristiwa selama 168 jam yang dialaminya telah membuatnya belajar tentang kepasrahan total kepada Yang Maha Kuasa. Di saat-saat yang dirasanya begitu dekat dengan kematian, ia baru menyadari betapa nyawa amatlah berharga dibandingkan berita sepenting apapun dan tak ada sesiapa yang dapat menolongnya kecuali atas kehendak Tuhan.

Buku ini merekam secara filmis adegan demi adegan yang dialami Meutya dan Budi sejak diculik di sebuah pompa bensin di Ramadi hingga disekap di gua dan kemudian dibebaskan tanpa tuntutan apapun. Sebagai sebuah memoar, buku ini menjadi menarik karena dituturkan dengan gaya bercerita orang pertama (aku).

Selain Meutya, penulisan buku ini juga melibatkan tim penulis pendamping yang terdiri dari Mauluddin Anwar, A.Latief Siregar, dan Ninok Laksono serta Hermawan Aksan (cerpenis/novelis) selaku editor. Buku ini diterbitkan oleh Hikmah, salah satu penerbit yang tergabung dalam Grup Mizan.***

Endah Sulwesi 7/10
 
posted by biru
Permalink ¤