Tuesday, June 30, 2009,10:05 AM
"Smokol" Jawara Cerpen Kompas 2008

Ini hajatan rutin Kompas setiap tahun dalam rangka HUT-nya. Tahun ini, koran nasional terbesar itu berusia 44. Dan semalam (29/6), bertempat di BBJ, diumumkanlah 15 cerpen terbaik Kompas 2008 dengan pemenang utama "Smokol" karya Nukila Amal.

Tahun ini yang bertindak sebagai juri adalah Linda Christanty dan Rocky Gerung. Mereka telah menetapkan 15 cerpen terbaik 2008 sbb:


1. Smokol (Nukila Amal)

2. Iblis Paris (Triyanto Triwikromo)

3. Kiriman Laut yang Terlambat (Beni Setia)

4. Senja di Pelupuk Mata (Ni Komang Ariani)

5. Cerita dari Rantau (Anton Septian)

6. Terbang (Ayu Utami)

7. Sakri Terangkat ke Langit (Prasetyo Utomo)

8. Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh (Martin Aleida.

9. Merah Pekat (F.Dewi Ria Utari)

10. Rumah Duka (Ratih Kumala)

11. Dalam Hujan Hijau Friedenau (Triyanto T)

12. Berburu Beruang (Puthut EA)

13. Ratap Gadis Suayan (Damhuri Muhammad)

14. Kartu Pos dari Surga (Agus Noor)

15. Perempuan Sinting di Dapur (Ugoran Prasad)


Selamat untuk para pemenang!
 
posted by biru
Permalink ¤ 2 comments
Tuesday, May 19, 2009,2:43 PM
'Berenang' di "Kolam" Sapardi

Acara : Diskusi Buku Puisi Sapardi Djoko Damono: Kolam
Tgl : 18 Mei 2009
Jam: 19.00-21.00
Tempat: Salihara, Jakarta Selatan
Pembicara: Hasan Aspahani (Penyair) dan Al Fayad
Moderator: Nirwan A. Arsuka


Kolam adalah judul buku kumpulan puisi terbaru penyair gaek Sapardi Djoko Damono, menandai masa kepenyairannya yang telah memasuki usia lebih setengah abad. Konon, ia telah menyair sejak umur 19 tahun. Sepanjang karier kepenyairannya, SDD senantiasa bersetia dengan gaya ungkap romantis manis menggunakan benda-benda alam yang amat dekat dengan keseharian beliau (dan juga kita). Siapa di antara kita yang tak mengakrabi matahari, hujan, kabut, sungai, embun, rumput, pohon, bunga, kicau burung, desau angin, debu, batu, ilalang, daun.....? Setidaknya, benda-benda alam tersebut bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. Oleh tangan dingin sang penyair, benda-benda biasa itu bisa menjelma sebuah rayuan, ungkapan cinta, kerinduan, doa, atau keluh kesah seorang yang kesepian. Entah dengan mantera apa, kata-kata dari nama-nama benda itu bisa berubah menjadi sihir di bawah kekuasaan Sapardi.


Dan malam itu, Kolam beserta sang penulisnya dibedah bersama Hasan Aspahani, penyair yang juga Pemimpin Redaksi Batam Pos dan Ketua Dewan Kesenian Batam serta Al Fayad (Yogyakarta). Lumayan seru dan mencerahkan. Pada kesempatan tersebut, SDD memberi pengakuan, bahwa yang penting bukanlah apa yang diucapkan, tetapi cara mengucapkannya (puisi). "Bagi saya, sudah tidak ada yang baru lagi di dunia ini," begitu ujarnya dengan kesederhanaan seorang Dewa Sastra. Ah, Pak, buatku, puisi-puisimu selalu memukau. ***
 
posted by biru
Permalink ¤ 1 comments
Wednesday, April 08, 2009,11:37 AM
Membincang "Kitab Omong Kosong" di Cafe Miitem

Acara : Diskusi Bulanan Eve Book Club
Tgl: 7 April 2009
Tempat: Cafe Miitem, City Walk, Jakarta.


Untuk kedua kalinya aku menghadiri acara diskusi bulanan Eve Book Club bersama majalah EVE dan ibu-ibu cantik yang tergabung dalam Ibu-Ibu Membahas Buku. Bulan April ini yang dibincang adalah novel pemenang KLA 2005 karya Seno Gumira Ajidarma, Kitab Omong Kosong. Novelnya disediakan oleh Penerbit Bentang Pustaka. Hadir sebagai pembicara adalah Seno Gumira Ajidarma dipandu oleh Mas Dean selaku moderator. Acara tersebut juga diikuti oleh para undangan lain: Lita, Windry, dan Mirna dari Goodreads Indonesia, Imam Risdiyanto dan Putri dari Bentang Pustaka serta beberapa undangan lain yang cantik-cantik dan wangi. Sayang, aku tidak sempat berkenalan dengan mereka.

Diskusi berlangsung cukup hangat selama lebih kuran 90 menit, dimulai jam 5 p.m. Pertanyaan-pertanyaan mengalir dari para peserta yang dijawab dengan santai oleh SGA yang saat ini sedang menyelesaikan proyek "Naga Bumi", cerita bersambungnya yang dimuat di harian Suara Merdeka, Semarang. Katanya, cerbung tersebut setiap 100 bab akan diterbitkan dalam bentuk buku/novel.

Oiya, tentu saja acara berlangsung lancar antara lain berkat MC keren Miss G. Walaupun peserta masih belum puas, namun obrolan kudu dihentikan karena jatah waktu sudah habis. Tapi aku tidak langsung beranjak pulang karena kemudian melanjutkan obrolan dengan Imam dan Putri serta Kef yang tiba terlambat dan juga Yokie, penulis Happy Potter. Kami ngerumpi sampai jam setengah 10. Sempat bertemu kembali dengan Miss G yang sudah pamit sejak acara diskusi bubar. Rupanya si Mbok ini bukannya pulang tapi jalan-jalan dulu. Belanja ya, Mbok?

Oya (lagi), dari diskusi itu aku dapat voucher 100 ribu perak untuk makan di Miitem. Langsung malam itu juga dimanfaatkan untuk mencoba miitem. Rupanya rahasia warna hitam itu berasal dari tinta cumi-cumi. Selain hitam, kafe putih ini juga menyediakan mie warna pink, hijau, kuning. Warna pink diperoleh dari bit; hijau dari bayam, dan kuning dari wortel. Kapan-kapan coba lagi ah. Mie-nya sih ga terlalu enak, tetapi pizza jamurnya mak nyuusssss....!

Baiklah, cukup sekian. Mudah-mudahan bulan depan aku bisa ikutan lagi dengan buku dan pembicara yang lain. Serat Centhini? :P


 
posted by biru
Permalink ¤ 3 comments